Dalam kehidupan sehari-hari Herwin
adalah suami yang baik dan penuh perhatian. Sabar, terbuka dan bersedia
menerima kritik bila ada yang memberikannya. Perhatian yang sama diberikan pula
pada kebutuhan biologis pasangan. Untuk yang satu ini, ia pun cukup teliti. Ia
baru melakukan penetrasi setelah veggy istrinya benar-benar basah dan
siap menerima kehadirannya.
Dalam benaknya, ia telah berhasil menjadi suami dan
kekasih yang baik. Semua kebutuhan telah dipenuhi. Hubungan seks yang mereka
jalankan, dalam benak Herwin, sangat memuaskan. Buktinya, ia bisa memperoleh
kenikmatan seksual dan istrinya tidak pernah mengeluhkan hubungan seks
tersebut.
Suatu ketika di antara mereka terjadi keributan kecil.
Pemicunya Herwin lupa membayar tagihan kartu kredit istrinya. Percekcokan itu
membuat istrinya marah besar, sehingga ia mengeluarkan kata-kata yang tidak
pernah dilontarkan sebelumnya, “Kamu laki-laki yang paling menyebalkan. Di
ranjang tak bisa apa-apa. Memosankan!” katanya ketus.
Herwin kaget mendengar ucapan istrinya. Selama ini, meski
kadang bertengkar, istrinya belum pernah mengungkit kehidupan seksnya. Menurut
Herwin, istrinya selalu menikmati hubungan seks yang dijalankan. Pasalnya,
selain tidak ada keluhan, Herwin juga mengikuti prosedur hubungan seks yang
dimulai dari pemanasan dan berakhir dengan afterplay.
Ucapan istrinya menyadarkan Herwin bahwa hubungan seks
yang mereka lakukan selama ini belum sebaik yang dibayangkan. Tentunya,
pertengkaran itu telah menguak tabir kegelapan yang sudah berlangsung selama
tiga tahun. Istrinya tidak puas dengan hubungan seks yang selalu dilakukan
dalam posisi yang sama sehingga dirasakan menjemukan.
Memang, komunikasi seks yang kurang baik di antara
pasangan dapat menimbulkan bahaya laten. Pasalnya, persoalan itu akan dipendam
dalam benaknya sendiri. Seperti kasus Herwin di atas, persoalan seksnya tidak
akan terungkap bila tidak ada persoalan lain yang memicu kemarahan istrinya.
Untuk menghindari munculnya bahaya laten ini, ada baiknya
Anda dan pasangan selalu menjalin komunikasi seksual yang baik sehingga apa
yang diinginkan oleh masing-masing pihak dapat terlaksana.
@benKLIK: ”Seseorang tidak akan bisa
mengungkapkan wataknya sendiri begitu jelas seperti ketika dia sedang
mengungkapkan watak orang lain” (Jean Paul Richter)


Comments
Post a Comment